Diketahui, Jembatan Cangar kembali menjadi sorotan setelah insiden bunuh diri terjadi untuk kedua kalinya. Kondisi ini memicu keresahan masyarakat setempat, mengingat jembatan tersebut juga merupakan jalur alternatif yang kerap dilalui wisatawan menuju Kota Batu maupun Mojokerto.
Menanggapi situasi tersebut, pihak Manajemen Mikutopia yang berlokasi di Desa Tulungrejo mengambil inisiatif dengan menawarkan solusi kepada pemerintah daerah. Melalui kuasa hukumnya, Haitsam Nuril Brantas Anarki dan Bagas Dwi Wicaksono, disampaikan bahwa langkah ini merupakan hasil diskusi bersama perwakilan masyarakat.
Menurut Haitsam, pemasangan pagar pembatas dinilai sebagai langkah paling efektif untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. Ia menjelaskan, terdapat dua jembatan yang menjadi fokus rencana pemasangan, dengan panjang masing-masing sekitar 73 meter dan 44 meter. Jika dihitung pada kedua sisi, total panjang pagar yang akan dibangun mencapai lebih dari 200 meter.
Sementara itu, Bagas menegaskan kesiapan pihaknya untuk segera merealisasikan pembangunan tersebut. Ia memastikan desain pagar akan mengutamakan aspek keamanan tanpa mengabaikan nilai estetika jembatan.
Namun demikian, pelaksanaan proyek masih bergantung pada perizinan dari instansi berwenang. Pihak Mikutopia menyatakan akan bergerak cepat setelah seluruh persyaratan administratif terpenuhi.
Respons positif datang dari masyarakat setempat. Salah satu warga Bumiaji, Tanti (40), menyampaikan apresiasi atas kepedulian yang ditunjukkan. Ia berharap langkah tersebut dapat mencegah insiden tragis di masa depan, sekaligus memberikan rasa aman bagi warga dan wisatawan yang melintas.
Dengan tingginya mobilitas di kawasan tersebut, terutama saat musim liburan, upaya preventif ini dinilai mendesak untuk segera direalisasikan. Warga pun berharap pemerintah daerah dapat segera memberikan persetujuan agar rencana pemasangan pagar pembatas dapat diwujudkan dalam waktu dekat.


