DerapHukumPos.com -- Kaltim kec maratua – Hampir sebulan kemarau melanda kecamatan Maratua. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat di sejumlah kampung yang mengalami krisis air bersih akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Rabu(10/06/26)
Kondisi tersebut terutama dialami warga Kampung Payung-Payung, Kampung Teluk Alulu, dan Kampung Bohe Silian. Berbeda dengan Kampung Teluk Harapan ibu kecamatan yang daratannya memiliki sumber mata air tawar, tiga kampung tersebut tidak memiliki sumber air tawar alami dari dalam tanah dan selama ini hanya mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Akibat hujan yang tak kunjung turun, tandon dan bak penampungan air hujan milik warga kini hampir kosong. Sebagian masyarakat terpaksa membeli air bersih dari penyedia air yang berada di Kampung Teluk Harapan dengan biaya yang tidak sedikit.
"Kalau musim kemarau seperti ini, kami selalu kesulitan air. Tandon sudah hampir kosong karena sudah beberapa minggu hujan tidak turun. Terpaksa membeli air untuk kebutuhan sehari-hari," ungkap salah seorang warga Kampung Payung-Payung.
Menurut warga, persoalan kekurangan air bersih bukanlah masalah baru. Hampir setiap tahun kondisi serupa terjadi ketika curah hujan rendah dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, masyarakat meminta pemerintah agar memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan dasar masyarakat di wilayah kepulauan.
Warga juga menyoroti sejumlah proyek penyediaan air bersih yang hingga kini belum memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Salah satunya adalah proyek embung di Kampung Teluk Alulu yang diharapkan menjadi solusi penyediaan air bersih, namun hingga saat ini dinilai belum berfungsi optimal.
Selain itu, proyek penyediaan air bersih di Kampung Payung-Payung juga disebut belum selesai, meskipun masa pekerjaannya telah berakhir. Kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat yang masih menunggu manfaat nyata dari proyek tersebut.
"Kami harap proyek-proyek air bersih yang sudah dibangun dengan anggaran besar benar-benar bisa diselesaikan dan dimanfaatkan masyarakat. Jangan sampai setiap tahun kami menghadapi persoalan yang sama," ujar warga.
Masyarakat menegaskan bahwa persoalan air bersih di Pulau Maratua seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Selain merupakan wilayah kepulauan yang masuk kategori daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T), Pulau Maratua juga berada dekat dengan kawasan perbatasan Indonesia dan Filipina.
Lebih dari itu, Pulau Maratua merupakan destinasi wisata bahari yang telah dikenal hingga mancanegara. Keindahan alam bawah laut, pantai, dan ekosistem lautnya telah menarik wisatawan domestik maupun internasional selama bertahun-tahun.
Warga menilai sangat ironis apabila daerah wisata yang sudah dikenal dunia masih menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan air bersih.
"Maratua ini daerah wisata internasional yang sudah dikenal dunia. Banyak wisatawan datang menikmati keindahan pulau ini. Seharusnya kebutuhan dasar seperti air bersih menjadi perhatian pemerintah pusat karena ini menyangkut kehidupan masyarakat dan juga masa depan pariwisata," kata seorang warga.
Sejumlah warga bahkan mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penggunaan teknologi modern pengolahan air laut menjadi air tawar sebagai solusi jangka panjang. Menurut mereka, jika proyek-proyek yang ada belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara maksimal, teknologi desalinasi dapat menjadi alternatif yang lebih efektif bagi wilayah kepulauan.
Selain itu, masyarakat juga berharap pemerintah kembali memberikan bantuan tandon air berkapasitas besar sebagaimana program yang pernah dilakukan beberapa tahun lalu. Program tersebut dinilai cukup membantu warga dalam menampung air hujan saat musim penghujan.
"Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Yang kami butuhkan adalah kepastian ketersediaan air bersih. Jika proyek air bersih belum berfungsi maksimal, pemerintah bisa menghadirkan teknologi pengolahan air laut atau membantu penyediaan tandon baru untuk masyarakat," ungkap warga.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar persoalan krisis air bersih yang berulang setiap musim kemarau tidak terus menjadi beban bagi warga Pulau Maratua, khususnya di Kampung Payung-Payung, Teluk Alulu, dan Bohe Silian yang hingga kini masih sepenuhnya bergantung pada air hujan sebagai sumber kehidupan mereka.(Tim/Cm)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar