Menurut Sam Tito, Malang memiliki karakter historis sebagai kota pendidikan, budaya, dan pariwisata yang telah terbentuk jauh sebelum status metropolitan disematkan. Oleh karena itu, transformasi kota harus memperkuat identitas tersebut, bukan justru menyingkirkannya di tengah derasnya arus urbanisasi.
Ia menyoroti sejumlah dampak lingkungan yang mulai dirasakan masyarakat, seperti meningkatnya suhu udara, berkurangnya ruang terbuka hijau, serta potensi banjir akibat alih fungsi lahan yang tidak terkontrol. Sam Tito menilai, pembangunan kawasan permukiman dan infrastruktur perlu disertai perencanaan tata ruang yang tegas agar keseimbangan ekologi tetap terjaga.
Selain persoalan lingkungan, Sam Tito juga mengingatkan adanya tantangan sosial yang muncul seiring perkembangan kota. Kesenjangan antara kelompok masyarakat dinilai berpotensi melebar jika kebijakan pembangunan tidak berpihak pada pemerataan kesejahteraan. Ia menekankan pentingnya pembangunan yang inklusif, sehingga manfaat pertumbuhan kota dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
Dalam pandangannya, peran media massa juga menjadi faktor penting dalam mengawal pembangunan metropolitan. Sam Tito menilai narasi budaya masih kurang mendapat ruang dalam pemberitaan, padahal budaya merupakan identitas sekaligus fondasi sosial masyarakat Malang. Ia berharap media turut menghadirkan framing yang berimbang antara pembangunan modern dan pelestarian nilai-nilai lokal.
Sam Tito menegaskan bahwa keberhasilan Malang sebagai kota metropolitan tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuannya menjaga harmoni sosial, kelestarian lingkungan, serta keberlanjutan budaya. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan media dinilainya menjadi kunci dalam mewujudkan Malang yang maju, adil, dan berkelanjutan.(Red)


