![]() |
| PB XIV HANGABEHI berserta abdi dalem. |
Kehadiran KRA Dwi Indrotito Cahyono dalam tradisi budaya tersebut menjadi bagian dari upaya untuk turut menyaksikan sekaligus memberikan perhatian terhadap pelestarian warisan budaya Jawa yang masih terus dijalankan hingga saat ini.
Grebeg Maulud merupakan salah satu tradisi Keraton Surakarta dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada pelaksanaannya, kirab gunungan menjadi salah satu rangkaian yang menarik perhatian masyarakat. Sejumlah gunungan dibawa menuju Masjid Agung Solo untuk mengikuti prosesi doa sebelum kemudian menjadi rebutan warga sebagai bagian dari tradisi ngalap berkah.
Bagi PAKASA Malang Raya, tradisi seperti Grebeg Maulud memiliki nilai penting karena tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas, sejarah dan tata nilai masyarakat Jawa.
KRA Dwi Indrotito Cahyono menilai keberadaan tradisi budaya semacam ini perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi mampu menjadi sarana edukasi sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya Nusantara.
“Budaya adalah jati diri. Tradisi seperti Grebeg Maulud harus terus kita rawat dan dikenalkan kepada generasi muda, sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” ujar sam Tito (sapaan akrabnya)
Ia juga menegaskan bahwa PAKASA Malang Raya berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian budaya, tradisi dan kearifan lokal.
Menurutnya, keberagaman budaya Jawa merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama. Pelestarian tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari komunitas budaya, generasi muda, masyarakat hingga pemerintah.
“Kita tidak cukup hanya bangga dengan budaya sendiri. Harus ada langkah nyata untuk menjaga, mengenalkan dan melestarikannya,” tegasnya.
Prosesi Grebeg Maulud di Keraton Surakarta tahun ini berlangsung dengan antusiasme masyarakat yang cukup tinggi. Tradisi perebutan isi gunungan kembali menjadi salah satu momen yang dinantikan warga karena diyakini membawa keberkahan.
Kehadiran Ketua PAKASA Malang Raya dalam momentum tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa pelestarian budaya tidak mengenal batas wilayah. Budaya Jawa yang tumbuh di berbagai daerah memiliki keterkaitan sejarah dan nilai yang perlu terus dirawat secara bersama-sama.(*)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar